Kembalinya Jamaah ke Masjid di Jalur Gaza

Ribuan jamaah kembali memadati beberapa masjid di Jalur Gaza untuk melaksanakan salat Jumat pada 17 Oktober 2025. Beberapa masjid masih utuh, namun banyak yang rusak akibat gempuran Israel terhadap Hamas. Ini adalah pertama kalinya dalam beberapa bulan pengeras suara mengumandangkan panggilan salat. Seruan itu bergema di masjid-masjid di waktu yang hampir bersamaan hari Jumat, seminggu setelah gencatan senjata terjadi di wilayah pesisir Palestina. Wilayah tersebut dihuni oleh penduduk Muslim yang taat.

“Bersatu untuk beribadah lagi adalah perasaan yang tak terlukiskan setelah dua tahun kekurangan,” kata Ghalid al-Nimra di masjid Sayed Hachem, Kota Gaza.

Sayed Hachem, salah satu masjid tertua di kota terbesar Gaza, secara ajaib sebagian besar selamat dari serangan udara dan pertempuran dua tahun antara Israel dan Hamas. Saat menyaksikan ratusan jamaah, Nimra tersentuh melihat kerumunan besar jamaah berkumpul untuk pertama kalinya sejak perang pecah antara Hamas dan Israel pada 7 Oktober 2023.

Saat doa dikumandangkan pada pukul 12.30 siang, banyak orang bergegas melewati pintu bangunan peninggalan era Ottoman itu. Tua dan muda, banyak di antara mereka yang berwajah serius, berdoa bersama di dalam, di mana bahkan mimbar, tempat imam yang ditinggikan, tampak utuh. Dari 1.244 masjid di Gaza, 1.160 hancur sebagian atau seluruhnya, menurut kantor media Hamas di wilayah Palestina.

Pengalaman Jamaah yang Terdampak Perang

Beberapa jamaah menyatakan kebingungan. “Saya merasa jiwa saya tersesat di tengah semua kehancuran ini,” kata Abu Mahmud Salha. Pria berusia 52 tahun asal Gaza utara itu masih tinggal di kamp pengungsian di Al-Mawasi, di ujung lain Jalur Gaza. “Kami salat di dalam tenda, saya rindu salat berjamaah dan suara imam,” ujarnya.

“Ketika saya mendengar panggilan doa bergema melalui pengeras suara dari rekaman, saya merasa seperti ada bagian dari hidup kami yang rusak.”

Masjid di lingkungan tempat tinggalnya, al-Falluja, dihancurkan, sehingga ia terpaksa salat di jalan. Pada hari Jumat, sebagian besar warga masih mempertahankan kebiasaan yang mereka bangun selama beberapa bulan terakhir. Beberapa orang menggelar sajadah di jalan, di atas puing-puing, atau di masjid-masjid yang dindingnya runtuh. Yang lainnya membungkuk di dekat deretan tenda yang menampung ribuan warga Palestina terlantar di Gaza, dalam kondisi kehidupan yang masih sulit.

Kehilangan Tempat Beribadah

“Setiap Jumat, kami mencoba berkumpul di sebidang tanah kecil di bawah langit, untuk berdoa,” kata Moataz Abu Sharbi. “Kadang-kadang kami berdoa di atas pasir atau di atas potongan kardus, yang secara psikologis sangat sulit,” ujar pria berusia 27 tahun itu.

“Masjid adalah pilar kehidupan di lingkungan kami dan bagian berharga dari tradisi keagamaan kami,” kata Abu Sharbi, yang mengungsi ke kota Deir al-Balah di Gaza tengah. “Kehilangan rumah dan tempat berlindung spiritual — itulah bagian tersulit,” tambah Abu Sharbi.

Harapan untuk Kembali Beribadah

Meskipun banyak masjid telah hancur, para jamaah tetap berusaha untuk tetap menjalankan ibadah. Mereka mengambil langkah-langkah kreatif untuk tetap bisa berkumpul dan berdoa. Meski begitu, kehilangan tempat beribadah yang utuh menjadi tantangan besar bagi komunitas Muslim di Gaza.

Perjalanan panjang untuk membangun kembali masjid dan tempat ibadah lainnya masih terbentang di depan. Namun, keteguhan iman dan semangat untuk kembali beribadah bersama tetap menjadi motivasi utama bagi warga Gaza.