Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung: Dari Rencana Awal Hingga Tantangan Keuangan

Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, yang dikenal dengan nama Whoosh (Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat), lahir dari kolaborasi antara Indonesia dan Tiongkok. Proyek ini diharapkan mampu mengurangi kemacetan lalu lintas serta meningkatkan efisiensi perjalanan antar dua kota besar tersebut.

Awalnya, proyek ini direncanakan dengan anggaran sekitar US$6 miliar. Namun, beberapa faktor seperti pembebasan lahan, perubahan desain, serta kenaikan harga bahan konstruksi menyebabkan biaya proyek meningkat hingga mencapai US$7,2 miliar atau sekitar Rp116 triliun. Kenaikan biaya ini menjadi tantangan besar bagi pihak yang terlibat dalam proyek ini.

Sebagian besar pendanaan berasal dari pinjaman luar negeri, terutama dari China Development Bank (CDB) yang menyumbang sekitar 75 persen dari total utang Whoosh. Sisanya didanai oleh konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), yang di dalamnya termasuk PT KAI sebagai pemegang saham mayoritas dari pihak Indonesia.

Beban Bunga yang Mengkhawatirkan

Setiap tahun, beban bunga pinjaman diperkirakan mencapai antara US$120 juta hingga US$130 juta, setara dengan hampir Rp2 triliun hanya untuk membayar bunga. Ini belum termasuk pokok pinjaman. Berdasarkan laporan keuangan semester I tahun 2025, KCIC mencatat kerugian sebesar Rp1,6 triliun. Jumlah penumpang sepanjang 2024 hanya mencapai sekitar 6 juta orang, dengan rata-rata tarif tiket sebesar Rp250 ribu per tiket.

Total pendapatan kotor dalam setahun tidak lebih dari Rp1,5 triliun, yang masih jauh di bawah kebutuhan untuk membayar bunga. Bahkan jika tingkat okupansi meningkat, margin keuntungan tetap tipis. Biaya operasi dan pemeliharaan kereta cepat juga sangat tinggi karena memerlukan teknologi canggih dan investasi besar.

Minim Peminat dan Masalah Akses

Banyak calon penumpang masih memilih kendaraan pribadi atau transportasi lain karena alasan fleksibilitas, harga, dan akses stasiun. Salah satu masalah utama adalah lokasi stasiun Whoosh di Tegalluar yang relatif jauh dari pusat Kota Bandung serta akses transportasi penghubung yang belum optimal. Hal ini membuat perjalanan menjadi kurang efisien.

Selain itu, perubahan desain, kenaikan harga bahan, serta hambatan pembebasan lahan menyebabkan biaya proyek naik hampir 20 persen dari rencana awal. Setiap penambahan biaya otomatis berdampak pada pinjaman yang semakin besar, sehingga menambah beban bunga yang menekan keuangan proyek.

Peluang Pengembangan Kawasan Sekitar Stasiun

Salah satu peluang utama yang bisa dimanfaatkan adalah pengembangan kawasan transit-oriented development (TOD) di sekitar stasiun-stasiun utama seperti Halim, Karawang, Padalarang, dan Tegalluar. Jika pemerintah dan BUMN mampu mengelola daerah ini dengan pendekatan komersial, Whoosh dapat menghasilkan pendapatan dari berbagai sumber, termasuk tiket, sewa lahan, pusat perbelanjaan, perkantoran, hingga properti residensial.

Pendapatan non-tiket ini sering menjadi penyelamat finansial bagi proyek kereta cepat di banyak negara. Proyek ini tidak bisa dihentikan di tengah jalan, karena infrastruktur sebesar dan semahal ini tidak mungkin ditinggalkan tanpa penyelesaian. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang matang dan kolaborasi yang kuat untuk memastikan keberlanjutan proyek ini.