Pengakuan Fuji tentang ADHD
Fuji, yang dikenal sebagai Fujianti Utami, mengungkapkan bahwa dirinya memiliki gangguan perkembangan pada saraf yang disebut Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah podcast yang dihadiri oleh Raditya Dika.
Menurut informasi dari Alodokter, ADHD adalah gangguan perkembangan pada otak yang menyebabkan penderitanya kesulitan berkonsentrasi, hiperaktif, dan cenderung impulsif. Kondisi ini bisa memengaruhi prestasi akademik serta hubungan sosial.
Dalam wawancaranya dengan Raditya Dika, Fuji menjelaskan bahwa kondisi ADHD sudah dirasakan sejak kecil. Ia sering merasa tidak fokus dan mudah lupa, seperti sering meletakkan barang atau lupa apa yang baru saja dilakukannya.
“Sejak kecil, orang tua sering marah karena aku suka lupa menaruh barang dan lupa apa yang aku lakukan,” ujarnya.
Fuji juga mengungkapkan bahwa ia kesulitan berkonsentrasi ketika berada di lingkungan yang ramai. Namun, saat sendirian, ia justru merasa lebih teratur.
“Kalau belajar di tempat ramai, aku sulit fokus, tapi kalau sendirian, aku justru lebih teratur,” katanya.
Selain itu, Fuji mengaku kesulitan dalam menghafal skrip dan fokus pada topik pembicaraan. Hal ini membuatnya sering kesulitan dalam pekerjaannya.
“Aku susah banget menghafal skrip dan fokus pada topik pembicaraan,” ujarnya.
Fuji juga mengungkapkan bahwa ia sering tidak konsisten dalam menjalani tugasnya. Misalnya, ia sering meninggalkan proses pengeditan di tengah jalan karena merasa bosan, lalu lupa untuk melanjutkannya.
“Aku biasanya suka mengedit sendiri. Tapi, saat sedang mengedit, aku bosan dan meninggalkannya. Lalu lupa untuk melanjutkannya beberapa bulan kemudian,” jelasnya.
Kesadaran untuk memeriksakan diri ke psikolog muncul setelah dorongan dari temannya, Vio. Awalnya, Fuji menolak karena merasa tidak membutuhkan hal itu.
“Awalnya aku tidak mau karena aku masih kecil. Aku merasa tidak perlu itu,” ujarnya.
Namun, Vio terus membujuknya karena merasa kasihan dengan kondisi Fuji. Akhirnya, Fuji mendatangi psikolog sebagai bentuk penghargaan terhadap temannya.
Pada dua pertemuan awal, Fuji masih tertutup sehingga proses konseling belum efektif. Baru pada pertemuan ketiga, ia mulai lebih terbuka.
“Di pertemuan pertama dan kedua, aku tertutup, jadi tidak bekerja maksimal. Tapi di pertemuan ketiga, aku mulai lebih lepas,” kata Fuji.
Fuji juga menyadari bahwa ia tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan perasaannya.
“Aku tidak tahu cara mengekspresikannya. Aku seperti kosong, tatapan kosong,” ujarnya.
Setelah menjalani tes dan diskusi, dokter psikolog memberi informasi bahwa Fuji memiliki gejala yang mengarah pada ADHD.
“Setelah mengisi kertas dan berdiskusi, psikolog mengatakan bahwa aku memiliki gejala ADHD. Dia menjelaskan lebih lanjut,” jelasnya.


Tinggalkan Balasan