Pendekatan Kasih Sayang dan Pendidikan Agama dalam Pencegahan Parisida
Di tengah perhatian masyarakat terhadap fenomena parisida, seorang tokoh masyarakat di Kecamatan Simpang Kanan, Kabupaten Aceh Singkil, melakukan langkah-langkah kreatif untuk mencegah kejadian yang mengkhawatirkan ini. Pj Keuchik Pangi, Dr Ahmad Nasir Assingkily, mengambil pendekatan berbasis kasih sayang dan pendidikan agama sejak dini, sesuai ajaran Islam.
Parisida, yang berasal dari kata “parricide”, merujuk pada tindakan pembunuhan oleh keluarga dekat. Meski kata ini terdengar indah, maknanya sangat menakutkan. Dalam konteks sosial, fenomena ini sering kali dipicu oleh keretakan hubungan emosional, ketidakamanan, dan kurangnya penanaman nilai-nilai agama sejak dini.
Ahmad Nasir, yang juga merupakan dosen hukum Fakultas Syari’ah Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Syekh Abdurrauf, menjelaskan bahwa psikologi Islam memandang parisida sebagai hasil dari kerusakan fitrah dan terputusnya rahmah (kasih sayang) antara anak dan orang tua. Oleh karena itu, ia percaya bahwa upaya pencegahan harus dimulai dari dasar, yaitu melalui pengasuhan yang penuh cinta dan iman.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan oleh Ahmad Nasir adalah dengan memberikan hadiah baju baru kepada anak-anak Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di kampung tersebut. Namun, hadiah ini bukan sekadar bentuk materi, tetapi lebih dari itu, ia menjadi simbol sentuhan kasih sayang yang penting bagi perkembangan jiwa anak.
Dalam pandangan Ahmad Nasir, anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh perhatian, nilai agama, dan keteladanan akan memiliki jiwa yang lebih tenang (nafs mutmainnah), kemampuan mengelola emosi, serta rasa hormat dan kasih kepada orang tua. Hal ini menjadi investasi moral jangka panjang bagi masa depan kampung.
- Menanamkan cinta dan perhatian kepada anak-anak TPA
- Memberikan hadiah baju baru sebagai simbol kasih sayang
- Membangun lingkungan penuh nilai agama dan keteladanan
- Mempersiapkan generasi yang berakhlak dan berbakti
Ahmad Nasir menegaskan bahwa perhatian kepada anak-anak TPA adalah bagian dari upaya membangun masa depan kampung. Jika sejak kecil mereka merasakan kasih sayang dan dekat dengan Al-Qur’an, Insya Allah mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak dan berbakti.
Langkah kecil ini menjadi pengingat bahwa pencegahan tragedi sosial tidak hanya bergantung pada hukum dan sanksi, tetapi juga dimulai dari pendidikan hati, iman, dan kasih sayang. Dengan demikian, setiap individu memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan harmonis.
Dari Kampung Pangi, Ahmad Nasir memulai perubahan yang mulai dari hati dan jiwa generasi muda. Ia meyakini bahwa membangun kampung bukan hanya soal fisik, tetapi juga tentang menjaga fitrah dan jiwa generasinya. Dengan pendekatan yang berlandaskan nilai-nilai agama dan kasih sayang, ia berharap bisa mencegah luka sosial di masa depan.


Tinggalkan Balasan