Jakarta — Harga minyak dunia mengalami kenaikan setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memperketat pembatasan terhadap Venezuela. Hal ini memicu kembali ketegangan geopolitik yang berdampak pada pasar energi global.
Menurut laporan Bloomberg pada Senin (22/12/2025), harga minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman Februari naik sebesar 0,7% menjadi US$60,87 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Februari juga meningkat sebesar 0,4% menjadi US$56,87 per barel.
Penguatan harga tersebut membawa Brent mendekati level US$61 per barel setelah mengalami dua minggu penurunan berturut-turut. Sementara itu, WTI berada di kisaran US$57 per barel.
Pergerakan harga minyak dipengaruhi oleh upaya AS dalam memperketat blokade terhadap Venezuela. Penjaga pantai AS pada Sabtu lalu menaiki kapal tanker Centuries di wilayah Karibia yang membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah Venezuela. Otoritas AS juga sedang mencari kapal tanker Bella 1 yang menuju ke negara Amerika Latin tersebut.
Washington terus meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Trump berupaya memutus sumber pendapatan utama negara tersebut. AS juga menetapkan rezim Maduro sebagai organisasi teroris asing dengan tuduhan keterlibatan dalam perdagangan narkoba.
Meskipun Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia, ekspor minyaknya—yang sebagian besar dikirim ke Tiongkok—kini hanya menyumbang kurang dari 1% terhadap permintaan global.
Ketegangan geopolitik juga meningkat karena pasokan dari anggota OPEC+ lainnya. Ukraina melakukan serangan pertama terhadap kapal tanker minyak dari armada bayangan Rusia di Laut Mediterania menggunakan drone. Serangan ini dilakukan setelah aksi sebelumnya terhadap fasilitas Lukoil PJSC di Laut Kaspia.
Situasi geopolitik ini membantu menjaga harga minyak, yang sepanjang tahun ini telah turun sekitar 20%. Penurunan harga disebabkan oleh kelebihan pasokan global setelah OPEC dan sekutunya memulihkan produksi lebih cepat dari perkiraan. Di sisi lain, produsen di luar kartel meningkatkan output, sementara permintaan global tetap rendah.
“Kami tetap optimis terhadap harga minyak hingga akhir tahun, dengan dukungan utama datang dari perkembangan geopolitik,” ujar Robert Rennie, Head of Commodity Research Westpac Banking Corp. Namun, dia memprediksi bahwa harga Brent berpotensi turun ke kisaran US$50 per barel pada tahun depan.


Tinggalkan Balasan