Respons Presiden Jokowi terhadap Utang Kereta Cepat Whoosh
Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), tidak memberikan respons langsung saat ditanya mengenai utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang bernilai Rp116 triliun. Saat ditanya oleh seorang wartawan, Jokowi hanya melemparkan senyum dan tidak menjawab secara langsung.
Peristiwa ini terjadi ketika Jokowi hadir dalam rapat senat terbuka Dies Natalis ke-62 Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (17/10/2025). Dalam kesempatan tersebut, ia sempat berinteraksi dengan para tamu dan awak media. Salah satu wartawan kemudian bertanya tentang proyek kereta cepat yang kini tengah menjadi perhatian publik.
“Pak, terkait Whoosh sekarang tidak pakai APBN itu tanggapannya gimana, Pak?” tanya salah seorang wartawan kepada Jokowi. Jokowi hanya merespons dengan “Hmmm”, yang biasa diartikan sebagai tanda sedang memikirkan sesuatu atau merespons secara netral. Ia lalu membalikkan badannya dan tidak menjawab pertanyaan lebih lanjut.
Kereta Cepat Jakarta-Bandung, yang juga dikenal dengan nama Whoosh, merupakan proyek infrastruktur strategis nasional yang dibangun pada masa pemerintahan Jokowi. Proyek ini telah ditetapkan sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun 2016. Whoosh menjadi kebanggaan Jokowi karena memiliki kecepatan hingga 350 kilometer per jam dan menjadi kereta cepat pertama di Indonesia maupun Asia Tenggara.
Nama “Whoosh” sendiri terinspirasi dari suara yang melesat dari kereta berkecepatan tinggi tersebut. Selain itu, nama tersebut merupakan singkatan dari Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat. Pengelola proyek Whoosh adalah PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), yang merupakan perusahaan patungan antara konsorsium Indonesia dan China.
Adapun komposisi pemegang saham KCIC terdiri atas 60 persen saham dari konsorsium China melalui Beijing Yawan HSR Co Ltd, dan 40 persen dari konsorsium Indonesia yang dipimpin oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). PSBI sendiri dipimpin oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) dengan porsi saham 58,53 persen, diikuti Wijaya Karya (33,36 persen), PT Jasa Marga (7,08 persen), dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII (1,03 persen).
Sementara itu, komposisi pemegang saham Beijing Yawan HSR Co. Ltd terdiri atas CREC 42,88 persen, Sinohydro 30 persen, CRRC 12 persen, CRSC 10,12 persen, dan CRIC 5 persen.
Whoosh diresmikan oleh Jokowi pada 2 Oktober 2023 di Stasiun Halim, Jakarta. Menurut Jokowi, kereta cepat ini menandai modernisasi transportasi massal yang efisien, ramah lingkungan, dan terintegrasi dengan moda transportasi lainnya termasuk terintegrasi dengan TOD (Transit Oriented Development).
Namun, baru-baru ini, Menteri Keuangan RI (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menolak usulan pembayaran utang Whoosh dengan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia menyatakan bahwa proyek Whoosh kini dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berada di bawah naungan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
Danantara, kata Purbaya, sudah memiliki manajemen dan dividen sendiri. “Yang jelas sekarang saya belum dihubungi tentang masalah itu, tapi KCIC di bawah Danantara kan, kalau di bawah Danantara kan mereka sudah punya manajemen sendiri, punya dividen sendiri,” ujar Purbaya saat Media Gathering di Bogor, Jumat (10/10/2025).
Purbaya juga mengungkap bahwa Danantara telah mendapatkan sebesar Rp80 triliun dari dividen dalam satu tahun. Sehingga, menurutnya, utang Whoosh bisa teratasi tanpa harus pembiayaan dari pemerintah. “Jangan kita lagi, karena kan kalau enggak ya semua kita lagi termasuk dividennya. Jadi, ini kan mau dipisahin swasta sama government,” pungkasnya.


Tinggalkan Balasan