Energi Surya Kini Lebih Murah dan Kompetitif
Perusahaan pengembang energi surya, SUN Energy, menyatakan bahwa investasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) kini lebih murah dibanding sebelumnya. Hal ini membuat energi berbasis sumber terbarukan semakin bersaing dengan energi fosil.
Menurut CEO SUN Energy, Emmanuel Jefferson Kuesar, tren dalam lima tahun terakhir menunjukkan penurunan biaya investasi per watt peak (Wp). Penurunan ini terjadi karena harga panel, inverter, dan peralatan lainnya yang semakin turun. Ia menyebutkan bahwa listrik dari solar kini sudah lebih murah dibandingkan tarif listrik dari sumber fosil.
Jefferson menambahkan bahwa minat masyarakat terhadap pemasangan PLTS di sektor bisnis meningkat. Pemasangan PLTS tidak hanya dianggap sebagai strategi untuk mengurangi emisi, tetapi juga menjadi upaya untuk meningkatkan efisiensi biaya energi dan menjaga ketahanan pasokan listrik.
“Teknologi yang baru memang memiliki biaya tinggi, tetapi PLTS bukan teknologi baru. Teknologi ini akan terus berkembang dan pasti ada efisiensi di masa depan,” ujarnya.
Hingga 2025, SUN Energy telah mengoperasikan lebih dari 300 proyek PLTS di Indonesia dengan total kapasitas terpasang lebih dari 240 megawatt (MW). Proyek-proyek ini tersebar di lebih dari 50 sektor industri dan diperkirakan menghasilkan 322,3 juta kilowatt hour (kWh) listrik bersih setiap tahun. Selain itu, proyek-proyek ini berkontribusi pada pengurangan emisi karbon hingga 250,8 juta kilogram karbon dioksida ekuivalen (CO₂e) per tahun.
Pertumbuhan kapasitas PLTS industri di pelanggan SUN Energy tercatat paling signifikan di lima sektor utama, yaitu semen, FMCG, kertas, kemasan, elektronik, dan komponen otomotif. Dari sisi wilayah, pemanfaatan energi surya oleh pelanggan SUN Energy paling banyak terkonsentrasi di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten, yang merupakan tulang punggung industri manufaktur nasional.
Analisis Mengungkap Fakta tentang Energi Terbarukan
Analisis dari Zero Carbon Analytics berjudul The Myth of Renewables Pushing Up Power Prices menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan energi terbarukan yang tinggi berkorelasi dengan harga listrik yang berada di bawah rata-rata. Di wilayah dengan adopsi energi angin dan surya yang tinggi, biaya listrik bagi pengguna akhir justru tidak naik lebih cepat dibandingkan wilayah yang masih bergantung pada bahan bakar fosil. Bahkan, tren sebaliknya lebih sering terjadi.
Organisasi International Renewable Energy Agency (IRENA) mencatat bahwa pada 2024, sembilan dari sepuluh proyek energi terbarukan baru skala jaringan menghasilkan listrik dengan biaya lebih rendah dibandingkan alternatif pembangkit berbahan bakar fosil termurah.
Tenaga angin darat tercatat sebagai sumber energi listrik baru termurah secara global, dengan rata-rata levelised cost of electricity (LCOE) sebesar US$0,034 per kWh. Disusul oleh surya fotovoltaik (PV) dengan LCOE sebesar US$0,043 per kWh dan tenaga air sebesar US$0,057 per kWh.
Listrik dari pembangkit angin darat baru juga 53% lebih murah dibandingkan alternatif fosil yang paling kompetitif. Sementara itu, energi terbarukan yang dikombinasikan dengan penyimpanan baterai kian mendekati paritas biaya dengan pembangkit fosil di sejumlah pasar utama, menurut IRENA.


Tinggalkan Balasan