Peristiwa Kematian Timothy Anugerah Saputra dan Dampaknya terhadap Lingkungan Kampus
Timothy Anugerah Saputra (TAS), seorang mahasiswa Universitas Udayana (Unud) yang meninggal dunia setelah terjatuh dari lantai empat gedung kampus, telah menjadi perhatian publik. Insiden tragis ini menimbulkan berbagai pertanyaan dan kecaman terhadap tindakan yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa lainnya.
Pihak keluarga korban, termasuk ayahnya Lukas Triana Putra, memilih untuk tidak melaporkan kasus tersebut ke pihak berwajib. Ia menyatakan bahwa ia tidak ingin membawa kasus perundungan itu ke ranah hukum. “Saya tidak mau membawa ke pidana, karena memang saya juga tahu kalau saya punya anak, jadi gitu kan juga kasian juga orang tuanya,” ujar Lukas di Polresta Denpasar.
Namun, meskipun ada di antara mereka yang belum mengungkapkan permintaan maaf, pihak kampus sedang mempertimbangkan sanksi internal bagi para pelaku. Hal ini menunjukkan bahwa institusi pendidikan tersebut mencoba untuk menangani isu perundungan secara lebih serius.
Percakapan di Media Sosial yang Menyebabkan Kontroversi
Dalam sebuah percakapan di media sosial, TAS disamakan dengan selebgram Kekeyi, lengkap dengan komentar sarkastik yang tidak memiliki rasa empati. Berdasarkan informasi, ada enam mahasiswa yang diduga terlibat dalam obrolan tersebut. Namun, hingga saat ini, hanya enam orang yang telah menyampaikan permintaan maaf, sementara kelompok dari Fakultas Kedokteran masih belum memberikan respons apa pun.
Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah Calista Amore Manurung, seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran UNUD yang baru saja mengikuti wisuda. Ia menjadi perbincangan setelah disebut-sebut meledek kepergian TAS. Dalam tangkapan layar yang dibagikan akun @gu_coci, terdapat percakapan grup yang menunjukkan sikap tidak pantas dari para calon dokter tersebut. Salah satu pesan menunjukkan bahwa seseorang menulis, “Percobaan bunuh diri di kamsud lompat dri lt 2.” Lalu muncul tanggapan dari akun bernama Calista Amora yang menulis, “Gaberasa lt 2 mah.”
Komentar-komentar seperti ini dinilai tidak berperikemanusiaan oleh warganet. Akun @gu_coci menilai ketiga mahasiswa tersebut tidak layak menyandang gelar calon dokter. Ia menegaskan bahwa ketiganya sedang menjalani masa koas di RSUP Prof. Ngoerah Bali.
Keluarga Korban dan Penyelidikan Polisi
Ibu korban, Sukadi, mengaku sudah datang ke Bali lima bulan sebelum kejadian karena merasa ada yang berbeda pada anaknya. Namun, ia tidak sempat membawa TAS untuk berobat atau konsultasi psikologis. Kini, keluarga korban lebih fokus mencari penyebab pasti di balik jatuhnya sang anak.
Menurut Lukas, pihak kampus belum memberi penjelasan rinci terkait kronologi insiden tersebut. “Intinya saya ingin tahu kenapa anak saya jatuh. Apakah karena bunuh diri, kecelakaan, atau hal lain, biarlah polisi yang menjelaskan,” tambahnya.
Tantangan Pendidikan Tinggi dalam Menghadapi Perundungan
Tragedi ini membuka luka sosial tentang empati dan budaya perundungan di lingkungan pendidikan tinggi. Sikap sang ayah yang menolak jalur hukum memperlihatkan kebesaran hati di tengah duka yang mendalam. Namun, keputusan ini sekaligus menjadi refleksi penting bagi institusi pendidikan untuk lebih sigap menangani kasus serupa.
Tanggung Jawab Masyarakat Digital
Sebagai masyarakat digital, kita perlu belajar menahan diri dan menjaga empati sebelum menulis di ruang publik. Kasus ini menunjukkan bagaimana komentar tanpa empati di dunia maya bisa memperparah penderitaan keluarga korban. Kampus dan aparat hukum sebaiknya bekerja sama untuk mengungkap kebenaran agar tidak muncul spekulasi liar.
Akhirnya, kematian Timothy bukan hanya tragedi pribadi, tetapi juga cermin bagi dunia pendidikan tentang pentingnya literasi empati dan kesehatan mental.


Tinggalkan Balasan