Tantangan Industri Rotan di Cirebon

Perajin rotan di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, terus mengingatkan pemerintah daerah akan komitmen yang pernah dijanjikan, yaitu membangun pusat logistik rotan. Langkah ini dianggap sebagai upaya penting untuk memperkuat rantai pasok dan memperluas pasar produk kerajinan rotan.

Desakan ini muncul di tengah situasi industri rotan yang sedang mengalami kelesuan setelah pandemi. Selain itu, persaingan dengan sentra-sentra rotan di daerah lain semakin ketat. Perajin seperti Darma dari Kawasan Tegalwangi menyoroti pentingnya pembangunan pusat logistik tersebut. Menurutnya, selama ini perajin sering menghadapi kesulitan dalam mencari bahan baku saat permintaan meningkat, terutama ketika ada pesanan ekspor atau pameran nasional.

“Tanpa gudang penyangga bahan baku, pasokan rotan mentah sering tersendat dan berdampak pada keterlambatan produksi,” ujar Darma. Ia juga menyebut bahwa dukungan pemerintah selama ini lebih banyak dalam bentuk bantuan alat atau program pendampingan, bukan pada aspek yang paling dibutuhkan, yaitu pemasaran dan ketersediaan bahan baku.

Menurut Darma, perajin kecil kini mulai kesulitan menjangkau pasar yang lebih luas karena tidak memiliki wadah promosi yang berkelanjutan. “Selama ini bantuan yang datang sering kali tidak sesuai kebutuhan. Padahal yang kami butuhkan adalah perluasan pasar dan jaminan bahan baku,” ujarnya. Ia berharap pemerintah hadir lewat fasilitas pameran atau membuka peluang di e-katalog LKPP.

Pendaftaran produk rotan ke dalam sistem e-katalog nasional yang dikelola Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dapat membuka pintu baru bagi perajin lokal agar produknya digunakan di proyek-proyek pemerintah. “Kalau produk rotan bisa masuk e-katalog, itu akan membantu sekali. Pemerintah daerah bisa jadi pembeli pertama yang memberi contoh,” tambahnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Cirebon era kepemimpinan Penjabat (Pj) Bupati Cirebon, Wahyu Mijaya, menyatakan bahwa pemerintah daerah memang tengah merencanakan pembangunan pusat logistik rotan. Fasilitas ini diharapkan menjadi solusi permanen untuk menjaga stabilitas pasokan bahan baku, sekaligus menopang daya saing industri kerajinan.

“Nantinya, ketika permintaan meningkat, pasokan tetap bisa terpenuhi. Pusat logistik ini menjadi salah satu langkah strategis agar industri rotan tetap bertahan,” kata Wahyu waktu itu. Ia menambahkan bahwa rotan merupakan salah satu identitas ekonomi Kabupaten Cirebon yang telah bertahan selama puluhan tahun dan dikenal hingga pasar ekspor. Karena itu, pemerintah daerah berupaya mendorong penguatan sektor ini lewat kerja sama lintas instansi.

“Industri rotan ini sudah menjadi warisan dan kebanggaan Cirebon. Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat untuk memprioritaskan pelatihan dan pameran bagi pengrajin rotan lokal,” katanya. Pemerintah daerah juga mengaku telah menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mengintegrasikan sentra potensi daerah seperti rotan, batik, dan kuliner dalam satu kawasan promosi terpadu. Langkah ini diharapkan dapat menarik investor dan meningkatkan nilai ekonomi produk lokal.

Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperdagin) Kabupaten Cirebon, nilai ekspor daerah tersebut pada triwulan I/2024 mencapai US$73,06 juta. Namun, posisi rotan sebagai komoditas unggulan kini mulai tergeser oleh benang, yang dalam dua tahun terakhir menunjukkan peningkatan ekspor signifikan. Perubahan komposisi ekspor ini mencerminkan pergeseran struktur industri di Cirebon. Di satu sisi, sektor tekstil dan turunannya tumbuh pesat; di sisi lain, industri rotan tradisional harus berjuang agar tidak tertinggal.