Washington DC, Daritimur.id

Kapal induk Amerika Serikat (AS) kini berada di Laut Karibia, tepatnya pada hari Minggu (16/11/2025). Tindakan ini dipastikan menimbulkan kemarahan dari pihak Venezuela. Pihak AS mengklaim bahwa kapal induk tersebut dikerahkan untuk memperkuat kampanye anti-narkoba yang disebut sebagai Operation Southern Spear atau Operasi Tombak Selatan.

Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa penambahan pasukan di Karibia merupakan bagian dari inisiatif anti-penyelundupan narkoba. Namun, banyak spekulasi muncul bahwa Washington mungkin sedang mempertimbangkan intervensi militer terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

Komando Selatan AS, atau SOUTHCOM, yang bertanggung jawab atas pasukan AS di Amerika Latin dan Karibia, sebelumnya menyatakan bahwa Gugus Tempur Kapal Induk USS Gerald R Ford telah memasuki wilayah tanggung jawab mereka. Komando tersebut menjelaskan bahwa langkah ini dilakukan sesuai dengan arahan Trump untuk membongkar organisasi kriminal transnasional dan melawan narco-terorisme.

Gugus tempur tersebut mencakup kapal induk tercanggih AS, dua kapal perusak berpeluru kendali, serta kapal pendukung dan pesawat lainnya. Armada ini bergabung dengan beberapa kapal perang yang sudah berada di Karibia. Sebagai bagian dari operasi tersebut, SOUTHCOM mengumumkan bahwa serangan baru terjadi pada hari Sabtu (15/11/2025) di Pasifik timur, yang menewaskan tiga tersangka.

Sejak meluncurkan kampanye operasi militer anti-penyelundupan narkoba pada bulan September, pasukan AS telah menewaskan sedikitnya 83 orang yang dituduh mengangkut narkoba di perairan internasional, menurut penghitungan AFP berdasarkan data yang dirilis secara publik. Namun, AS tidak memberikan rincian apa pun untuk mendukung klaim bahwa orang-orang yang menjadi target dalam lebih dari 20 serangan tersebut benar-benar penyelundup.

Venezuela: Ini ancaman langsung

Sementara itu, Venezuela melihat pengerahan militer tersebut sebagai ancaman langsung. AS tidak mengakui Maduro sebagai presiden sah Venezuela dan telah menawarkan hadiah sebesar 50 juta dollar AS bagi siapa pun yang berhasil menangkapnya untuk menghadapi dakwaan sebagai pemimpin kartel narkoba.

Di tengah laporan bahwa Trump mengadakan pertemuan dengan penasihat militer mengenai opsi bagi Venezuela, presiden AS itu pada Jumat mengatakan kepada wartawan bahwa dia “semacam” telah membuat keputusan. “Saya tidak bisa memberi tahu apa itu, tetapi kami membuat banyak kemajuan dengan Venezuela dalam hal menghentikan aliran narkoba,” ujarnya di dalam Air Force One.

Sebelumnya, dalam wawancara dengan CBS News, Trump meragukan AS akan berperang dengan Venezuela, tetapi meyakini bahwa masa kekuasaan Maduro tinggal menghitung hari.

Militer AS juga meningkatkan kehadirannya di Trinidad dan Tobago, negara kepulauan yang terletak dekat pesisir Venezuela. Pasukan AS dan Trinidad akan memulai latihan bersama pada Minggu, yang merupakan latihan kedua kalinya dalam kurang dari sebulan.

Pada hari Sabtu, Maduro mengecam latihan tersebut sebagai aksi yang tidak bertanggung jawab.