Penampilan Ibu Tiri yang Menjadi Tersangka Penganiayaan Balita
Sari Mulyani (26), ibu tiri yang diduga melakukan penganiayaan terhadap balita Raditya Allibyan Fauzan atau RAF (4) hingga meninggal dunia, tampak berjalan pelan di hadapan petugas kepolisian. Ia menggunakan kaos tahanan berwarna oranye dan tangan terikat borgol plastik.
Sari ditemani oleh dua polwan berbaju batik dan petugas kepolisian saat menghadiri Polrestabes Bandung, Jumat (28/11/2025). Ia hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara saat ditanya wartawan.
Sebelumnya, Sari Mulyani menjadi tersangka atas penganiayaan yang dilakukannya terhadap anak sambungnya, RAF. RAF meninggal setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Ujungberung pada Sabtu (22/11/2025) pagi. Anak tersebut tinggal bersama ayah dan ibu tirinya di Cipadung, Kota Bandung.
Titawati (29), ibu kandung RAF, awalnya dikabari bahwa putranya terjatuh di kamar mandi pada Jumat (21/11/2025). Namun, ia tidak percaya begitu saja dan merasa ada yang janggal. Setelah menemui dokter di rumah sakit, Titawati mengetahui bahwa RAF memiliki luka serius di tubuhnya, seperti luka lebam di tangan dan kaki, pendarahan di otak, tulang dada patah, dan retaknya tulang kepala.
“Saya waktu itu benar-benar syok, tak menyangka kok banyak luka di tubuhnya,” ujarnya kepada Daritimur.id, Selasa (25/11/2025).
Pandangan Tetangga terhadap Ibu Tiri
Tetangga Sari Mulyani yang tinggal di rumah kontrakan Gang Gagak IV A, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, mengungkapkan keseharian sang ibu tiri. Kusumawardhani (60) menyebut bahwa RAF sering bermain di depan rumahnya.
“Kami (warga) enggak menyangka. Bahkan, sampai detik ini saya tak menyangka (dianiaya). Duh ya Allah, anak itu sering main di depan rumah saya,” katanya di Jalan Cipadung, Selasa (25/11/2025).
Menurut Kusuma, tetangga lain bahkan telah menganggap RAF seperti anak mereka sendiri. Misalnya, RAF sering memanggil dengan sebutan Mama Ija. Ia juga mengenang saat RAF meminta uang untuk membeli jajan, namun Mama Ija tidak memiliki uang.
“Jadi, yang depan rumah saya sampai kemarin menangis. Soalnya dia terkadang suka bilang ‘Mama Ija minta susu, Mama Ija minta jajan’. Mama Ija ini kemarin menangis. Biasannya suka minta ke tetangga, pas terakhir kemarin tetangganya lagi enggak punya uang. Dan, ketika kemarin ada kabar begini, dia nangis,” kata Kusuma.
Secara umum, lanjut Kusuma, RAF yang akrab disapa Bian ini adalah anak yang kalem, tidak banyak tingkah, dan bisa ceria saat diajak bercanda. Namun, ia tak memungkiri bahwa di sisi lain, balita tersebut sering terlihat tertekan.
“Jadi, seperti yang terkadang suka bingung. Seperti anak itu kan kadang-kadang nge-blank gitu ya,” ucapnya.
Perilaku Ibu Tiri yang Mengkhawatirkan
Disinggung soal perlakuan sang ibu tiri kepada almarhum, Kusumawardhani mengatakan ibu tirinya memang cenderung over protektif. Terlihat, misalnya, saat anak itu sedang anteng bermain sepeda, ibu tirinya menegurnya dengan cara yang menurut Kusuma terlewat keras.
“Keras. Kalau misalnya melarang naik sepeda, dia langsung gas. Nah itu saya tahunya cuma dia begitu,” ucapnya.
Namun, saat disinggung apakah ibu tirinya pernah melakukan kekerasan fisik terhadap almarhum, dia tak dapat memastikannya sebab tak pernah melihatnya secara langsung. Hanya, dia mengaku beberapa hari sebelum balita itu meninggal, dia melihat ada luka pada pipi dan dahi korban. Namun, anak itu tak mengadu, bahkan menurutnya tak sakit saat ditanya soal lukanya.
“Enggak apa-apa katanya. Terus ini kenapa (dahi)? Kejedot jendela katanya. Sakit? Enggak katanya,” ucap Kusuma.
Lebih lanjut, Kusuma mengatakan, ada tetangga yang mendengar mereka ribut di kontrakannya beberapa hari sebelum balita itu dibawa ke RSUD Ujungberung pada Jumat (21/11/2025) dan dinyatakan meninggal besoknya.


Tinggalkan Balasan