Kota Surabaya dalam Pandangan Seniman Siwi Andika

Dalam pameran tunggal yang bertajuk “Repetisi, Reposisi”, seniman Siwi Andika menghadirkan kota Surabaya melalui konsep cityscape. Pameran ini berlangsung di Galeri Ruang Dini, Jalan Anggrek, Kota Bandung, dari tanggal 26 September hingga 19 Oktober 2025. Melalui karya-karyanya, Siwi menggunakan titik-titik koordinat sebagai patokan untuk memvisualisasikan kota tersebut.

Kota bisa dilihat sebagai rumah atau sekadar tempat singgah. Bagi Kla Project, Yogyakarta adalah kota dengan sapaan hangat di setiap sudutnya. Sementara itu, novelis sekaligus musisi Pidi Baiq melihat Bandung sebagai tempat yang penuh perasaan. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki cara unik dalam mengingat dan merasakan sebuah kota.

Kurator pameran “Repetisi, Reposisi” Dewi Zahra menjelaskan bahwa para seniman menggambarkan kota melalui representasi visual yang melebihi apa yang terlihat. Bahkan, mereka menciptakan sensasi penciuman dan suara hingga bersifat non-retinal untuk menyampaikan bagaimana kota ditangkap dalam benak masing-masing individu. Karya-karya yang menggambarkan suasana kota disebut dengan cityscape.

Siwi Andika menggunakan medium seni lukis untuk menangkap esensi dari suatu kota. Proses berkaryanya melibatkan penangkapan gambar dari Google Maps dan rute yang menghubungkan antar titik. Titik-titik yang dipilih bukanlah sembarang, tetapi berdasarkan peran dan signifikansi dalam keberlangsungan Kota Surabaya. Lokasi-lokasi penting seperti pusat perdagangan, pemerintahan, kebudayaan, dan transportasi menjadi pilihan utama.

Pola-pola yang berulang dalam karya Siwi menggambarkan rutinitas kota yang tak pernah berhenti. Lalu lalang yang sibuk hingga memekakkan bidang kanvas menjadi bagian dari karya tersebut. Namun, ia juga menciptakan ritme optikal yang harmonis.

Keteraturan yang lahir dari ketidakteraturan ini hadir dalam bentuk karya lukisan yang menyadarkan kita akan betapa dalamnya pembahasan-pembahasan yang terpercik dalam mendirikan ekosistem urban. Destinasi-destinasi itu dihadirkan menjadi bentuk baru, mengajak kita untuk mengingat sejauh mana kota ini sudah mengenal penduduknya dan sebaliknya.

Menurut Dewi Zahra, Siwi percaya bahwa setiap kota adalah labirin tersendiri. Kunci jawaban dari labirin itu tertimbun di benak masing-masing individu yang mengenalnya, lalu menyimpannya sebagai kenangan yang dikenang.

Kota sebagai tempat tinggal, bekerja, berduka, dan bersua memiliki bahasa yang dikomunikasikan kepada masing-masing individu, membisikkan arah jalan pulang dan kisah-kisah yang telah dilaluinya. Rutinitas yang terus diikuti Siwi selama tinggal di Surabaya dimaknai sebagai perpaduan dari berbagai elemen yang saling bertentangan, tetapi saling meneguhkan.

Sifat-sifat paradoks yang dapat ditemukan di dalam rutinitas yang penuh kebisingan menciptakan dinamika sendiri yang menghidupi kota-kota yang ditinggali. Semua arsitektur, mata pencaharian, peninggalan kebudayaan, dan sejarah, Siwi tandai menjadi titik keberangkatan kuasnya.

Siwi tidak hanya mempresentasikan Kota Surabaya, melainkan proses abstraksinya menekankan konsep dari sebuah kata menjadi ruang psiko sosial yang merekam jejak para penduduknya, ingatan-ingatan kolektif yang telah dibangunnya, serta perubahan-perubahan dari morfologi kota yang telah berlangsung selama ini.

Penggunaan Op Art dalam menggambarkan cityscape merupakan ajakan dari Siwi agar apresiator lebih kritis dalam memaknai dinamika yang terjadi di dalam suatu kota. Sebagai hasil renungannya, segala sifat dan unsur yang menurut Siwi menggambarkan kehidupan kota ditampilkan melalui tarikan kuas dengan warna yang mencolok dan meriah.