Bupati Mojokerto Hadiri Ibadah Syukur dan Lelang Unduh-Unduh Gereja Kristen Jawi Wetan
Dalam rangka memperkuat semangat kebersamaan dan toleransi antarumat beragama, Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa turut hadir dalam Ibadah Syukur HUT ke-12 dan Lelang Unduh-Unduh Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Tumpak yang berlangsung di Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, pada Minggu (19/10) siang. Acara tahunan ini tidak hanya menjadi momen keagamaan, tetapi juga mengandung makna budaya yang dalam.
Tradisi Unduh-Unduh sebagai Simbol Persaudaraan
Dalam sambutannya, Bupati Albarraa atau yang akrab disapa Gus Barra menekankan bahwa tradisi Unduh-Unduh bukan hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga warisan budaya yang mencerminkan nilai persaudaraan dan kepedulian sosial. Ia menjelaskan bahwa lelang hasil bumi yang dilakukan dalam acara ini menjadi wujud nyata dari rasa syukur dan kerja sama masyarakat.
“Tradisi Unduh-Unduh bukan sekadar seremoni, melainkan simbol rasa syukur dan kebersamaan. Ketika hasil bumi dilelang dan dibagikan, di situlah nilai gotong royong dan persaudaraan sejati tumbuh,” ujar Gus Barra di hadapan jemaat dan masyarakat yang hadir.
Peran GKJW Tumpak dalam Membangun Harmoni
Bupati juga menyampaikan apresiasi terhadap peran GKJW Tumpak selama 12 tahun terakhir dalam membangun harmoni lintas iman di Mojokerto. Menurutnya, gereja tersebut bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan sosial yang mampu memperkuat solidaritas antarwarga.
“GKJW Tumpak bukan hanya tempat beribadah, tetapi juga pelita bagi lingkungan sekitar. Inilah contoh bagaimana iman, budaya, dan gotong royong bisa berjalan beriringan,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Pentingnya Menjaga Toleransi dan Kedamaian
Selain menyoroti pentingnya toleransi, Bupati juga menekankan perlunya menjaga kedamaian di tengah keragaman masyarakat Mojokerto. Ia menilai bahwa tanpa kedamaian, pembangunan tidak akan berjalan maksimal, dan tanpa kasih, kerja keras akan kehilangan maknanya.
“Tanpa kedamaian, pembangunan tidak akan berjalan maksimal. Dan tanpa kasih, kerja keras kehilangan makna,” tambahnya.
Pelestarian Tradisi sebagai Warisan Budaya
Bupati Albarraa juga mendorong pelestarian tradisi Unduh-Unduh sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal yang harus dijaga dari generasi ke generasi. Ia menegaskan bahwa tradisi ini bukan hanya milik gereja, tetapi juga milik seluruh warga Mojokerto.
“Unduh-Unduh bukan hanya milik gereja, tetapi milik kita semua sebagai warga Mojokerto. Tradisi ini mengajarkan rendah hati, rasa syukur, dan kepedulian terhadap sesama,” imbuhnya.
Suasana Penuh Kebahagiaan dan Kebersamaan
Perayaan HUT ke-12 GKJW Tumpak ditandai dengan lelang hasil bumi dan kerajinan masyarakat, yang berlangsung dalam suasana penuh keceriaan dan kebersamaan. Hasil lelang tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan sosial dan pelayanan gereja di wilayah sekitar.
Di akhir acara, Bupati Albarraa berharap momentum ini menjadi penguat komitmen bersama dalam membangun Mojokerto yang damai, rukun, dan berkeadaban.
“Mari terus jaga semangat persaudaraan agar kedamaian selalu hidup di Mojokerto yang kita cintai,” pungkasnya dengan penuh harapan.


Tinggalkan Balasan