Surabaya – Pemerintah Peru secara resmi memutus hubungan diplomatik dengan Meksiko setelah menuduh negara tersebut mencampuri urusan dalam negeri melalui pemberian suaka kepada mantan pejabat pemerintahan yang terlibat dalam dugaan kudeta, Betssy Chávez.

Menurut laporan yang diterbitkan oleh sebuah media internasional pada Selasa (4/11/2025), keputusan ini diumumkan oleh Menteri Luar Negeri Peru, Hugo de Zela, atas nama Presiden konservatif baru Jose Jerí. De Zela menuding pejabat Meksiko campur tangan dalam urusan dalam negeri dengan memberikan perlindungan suaka politik kepada mantan Perdana Menteri Betssy Chávez, yang pernah menjabat di bawah pemerintahan mantan Presiden sayap kiri Pedro Castillo.

“Pemerintah Peru memutuskan untuk menghentikan hubungan diplomatik dengan Meksiko,” ujar De Zela dalam konferensi pers. Ia menyebut keputusan Meksiko yang mengizinkan Chávez tinggal di kompleks diplomatiknya di Lima sebagai tindakan tidak bersahabat serta mengecam intervensi para pemimpin Meksiko—baik yang sedang menjabat maupun yang sudah lengser—dalam urusan politik domestik Peru.

Kementerian Luar Negeri Meksiko belum memberikan tanggapan resmi atas keputusan tersebut. Sebelumnya, Chávez yang sempat ditahan dalam masa praperadilan menghadapi tuntutan pidana terkait perannya dalam dugaan upaya kudeta Castillo. Kala itu, Castillo berusaha membubarkan parlemen untuk mencegah pemungutan suara pemakzulan terhadap dirinya, namun langkah itu justru berujung pada pencopotannya dari jabatan presiden.

Ketidakhadiran Chávez dalam beberapa sidang pengadilan terakhir memunculkan dugaan bahwa ia telah melarikan diri ke salah satu kedutaan asing. Mantan Presiden Meksiko Andrés Manuel López Obrador (AMLO) secara terbuka menentang pemakzulan Castillo dan menilai hal itu sebagai kudeta oleh kelompok konservatif di parlemen Peru. AMLO bahkan sempat memberikan suaka politik kepada Castillo dan keluarganya, meski Castillo ditangkap sebelum sempat mencapai kedutaan Meksiko.

Sebagai respons, pemerintahan Peru kala itu mengusir duta besar Meksiko. Ketegangan meningkat pada 2023 ketika Peru memanggil pulang duta besarnya di Meksiko. Pemutusan hubungan diplomatik yang diumumkan Senin ini menandai eskalasi terbaru dalam konflik kedua negara.

Presiden Meksiko saat ini, Claudia Sheinbaum, juga mempertahankan posisi serupa dengan pendahulunya. Ia menegaskan bahwa Castillo bukan pelaku kudeta, melainkan korban dari upaya kudeta oleh pihak oposisi. Isu suaka politik sendiri menjadi semakin sensitif di Peru. Istri Castillo, Lilia Paredes, sebelumnya mendapat suaka dan izin keluar menuju Meksiko meski sempat ditentang pemerintah Peru.

Kasus serupa terjadi pada mantan Ibu Negara Nadine Heredia, istri eks Presiden Ollanta Humala, yang memperoleh suaka di Brasil setelah dijatuhi hukuman penjara atas kasus pencucian dana kampanye dari perusahaan konstruksi Brasil. Dalam kedua kasus tersebut, pemerintahan Peru kala itu tetap mengakui hak negara lain untuk memberikan suaka dan mengizinkan warganya meninggalkan negara tersebut.

De Zela belum memastikan apakah pemerintahan Jerí akan mengakui permohonan suaka untuk Chávez. Hal ini menunjukkan bahwa isu suaka politik masih menjadi topik yang sangat kontroversial di Peru, terutama dalam konteks hubungan bilateral dengan negara-negara tetangga seperti Meksiko.