Peran Soeharto dalam Kemerdekaan Indonesia

Seorang pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Zaki Mubarak, menyampaikan pandangan bahwa Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, lebih layak dikenang sebagai pahlawan kemerdekaan daripada pahlawan nasional. Menurutnya, kontribusi Soeharto selama masa perang melawan penjajahan cukup signifikan.

“Pak Harto memiliki banyak jasa dalam perang kemerdekaan. Salah satu yang fenomenal adalah perannya dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta,” ujar Zaki saat dihubungi oleh media.

Menurut Zaki, Soeharto termasuk sebagai inisiator utama serangan tersebut, di mana TNI berhasil menguasai Yogyakarta. Ia menilai bahwa gelar pahlawan kemerdekaan lebih objektif dan dapat diterima oleh berbagai elemen bangsa.

“Gelar pahlawan kemerdekaan saya kira lebih objektif dan dapat diterima banyak elemen bangsa,” katanya.

Potensi Kontroversi dengan Gelar Pahlawan Nasional

Zaki menjelaskan bahwa pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto akan menimbulkan perdebatan moral dan politik yang tajam di masyarakat. Selain itu, gelar tersebut justru berpotensi memudarkan semangat reformasi.

Ia menekankan bahwa gelar Pahlawan Nasional seharusnya diberikan secara selektif karena mencerminkan martabat bangsa dan standar moral publik.

“Pemberian penghargaan Pahlawan Nasional mencerminkan kepada tokoh tertentu menjadi tolak ukur dignity atau martabat kita sebagai bangsa. Bukan main-main, bukan juga soal kompromi politik,” jelas dia.

Karena itu, Zaki mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru mengambil keputusan yang berpotensi menimbulkan perpecahan politik.

“Menimbang penolakan luas dari masyarakat, terutama para aktivis dan akademisi, pemerintah harus lebih bijaksana. Tunda pemberian Pahlawan Nasional untuk Soeharto,” imbuhnya.

Usulan Bahlil untuk Semua Presiden

Sebelumnya, rencana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto menuai sorotan banyak pihak, karena sejumlah catatan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) pada masa lalu.

Namun, Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, mengusulkan agar seluruh presiden Indonesia mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.

“Bila perlu kami menyarankan semua tokoh-tokoh bangsa yang mantan-mantan presiden ini kalau bisa dipertimbangkan untuk diberikan gelar pahlawan nasional,” ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Selain Soeharto, ia juga menyebut Presiden ke-3 BJ Habibie dan Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai tokoh yang layak diberikan gelar pahlawan nasional.

“Pak Gus Dur juga mempunyai kontribusi terbaik untuk negara ini. Ya, kami menyarankan juga harus dipertimbangkan agar bisa menjadi pahlawan nasional. Pak Habibie juga, semuanya lah,” ujar Bahlil.