Penilaian Pengamat Politik terhadap Pernyataan Kaesang Pangarep
Pernyataan yang disampaikan oleh Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, tentang pentingnya “isi tas” dalam konteks elektabilitas tinggi menimbulkan berbagai reaksi dari kalangan pengamat politik. Salah satu pengamat yang mengkritik pernyataan tersebut adalah Jamiluddin Ritonga, seorang ahli politik dari Universitas Esa Unggul.
Jamiluddin menyatakan bahwa pernyataan Kaesang bisa diartikan sebagai tanda bahwa figur yang ingin menjadi calon legislatif (caleg) dari PSI harus memiliki modal uang. Ia menilai bahwa tanpa adanya “isi tas”, seseorang sulit untuk menjadi caleg dari partai yang memiliki logo gajah tersebut.
“Tanpa berbekal isi tas, maka sulit menjadi caleg dari partai berlogo gajah tersebut,” ujarnya kepada awak media pada Kamis (20/11).
Menurut Jamiluddin, caleg yang maju dalam kontestasi pemilu dengan mengandalkan modal uang berpeluang tidak amanah. Mereka terpilih bukan karena dipercaya oleh masyarakat, tetapi karena kerja sama dengan penyelenggara pemilu.
“Sebab, mereka terpilih dengan menghalalkan segala cara, termasuk karena main mata dengan penyelenggara pemilu,” tambahnya.
Dari sudut pandang Jamiluddin, pernyataan Kaesang terkait “isi tas” dapat merusak demokrasi. Menurutnya, jika figur terpilih hanya mengandalkan modal uang, maka kualitas pemilu akan terganggu dan parlemen akan kehilangan orang-orang berintegritas.
“Kualitas pemilu akan terganggu, sekaligus demokrasi juga akan rusak. Parlemen akan kehilangan orang-orang berintegritas,” katanya.
Konteks Pernyataan Kaesang
Sebelumnya, Kaesang menyampaikan pernyataannya saat hadir dalam Rakorwol PSI Sulawesi Tengah (Sulteng) di Palu, Rabu (19/11). Dalam kesempatan itu, ia meminta agar PSI Sulteng bekerja keras agar bisa menjadi penyumbang suara dalam Pemilu 2029 mendatang.
“Percuma juga punya elektabilitas tinggi, tetapi enggak punya isi tas. Loh, iya dong, masa isi tas enggak punya?” ujar Kaesang disambut tepuk tangan kader lainnya.
Meskipun pernyataannya menimbulkan pro dan kontra, Kaesang tidak menjelaskan secara spesifik apa maksud dari istilah “isi tas”. Namun, ia menyampaikan bahwa jika ada masalah terkait “isi tas”, maka ia akan menyerahkan kepada Ayahandanya, Ahmad Ali.
Selain itu, Kaesang juga mengingatkan agar kader PSI tidak melakukan gerakan tambahan yang tidak berguna. Ia menilai bahwa sering kali terjadi aktivitas tambahan yang tidak efektif.
“Saya ketika perintah ke Ketua Harian, A, ketika Ketua Harian menyampaikan ke sini, A, ketika mulai turun lagi A plus plus. Turun lagi A plus plus plus plus. Ada selalu kegiatan tambahan yang enggak begitu berguna,” ujarnya.
Kesimpulan
Perdebatan mengenai pernyataan Kaesang Pangarep ini menunjukkan betapa pentingnya integritas dalam proses pemilu. Meski pernyataan tersebut ditujukan untuk meningkatkan partisipasi dan keterlibatan kader PSI, namun bagi sebagian pihak, hal itu justru menimbulkan pertanyaan tentang kualitas dan etika dalam politik.


Tinggalkan Balasan