Makanan pedas menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari banyak orang di Indonesia. Tidak hanya sebagai pelengkap, sambal sering kali menjadi penentu selera makan. Di tengah gaya hidup yang semakin cepat dan dinamis, kebutuhan akan makanan praktis namun tetap lezat semakin meningkat. Dalam situasi ini, Sanrah Food hadir sebagai solusi yang tepat dengan produk-produk beku dan sambal siap saji yang mengutamakan rasa autentik.
Pertamina SMEXPO 2025 menjadi momen penting bagi Sanrah Food. Selain memperluas jaringan pasar, acara ini juga menjadi ajang untuk memperkenalkan inovasi baru yang telah dirancang untuk menjawab berbagai kebutuhan konsumen. Tahun ini, Sanrah Food meluncurkan dua produk baru, yaitu chili oil serta nasi instan dengan varian seperti tuna cabe ijo dan sate ayam. Produk-produk ini menambah lini produk yang sudah ada, termasuk sambal dan lauk beku yang telah menjadi andalan.
Kisah Sanrah Food dimulai pada tahun 2017 ketika pendirinya, Lina S. Rahmania, ingin mencoba sesuatu yang berbeda setelah pensiun. Dengan resep dari adiknya yang memiliki usaha restoran bebek, Lina memulai bisnis dari dapur rumahnya sendiri. “Saya tidak bisa masak, tapi saya suka makan. Jadi saya pakai resep adik saya. Tidak perlu menciptakan resep sendiri,” ujarnya saat ditemui di pameran Pertamina SMEXPO 2025.
Respons positif dari pasar membuat Lina semakin percaya diri untuk membangun bisnis secara lebih serius. Ia melibatkan ibu-ibu sekitar dalam proses produksi, sekaligus memastikan bahwa semua proses legalitas, seperti izin BPOM dan sertifikasi halal, terpenuhi. Pengalaman kerjanya di perusahaan farmasi membantunya menjaga higienitas, standar produksi, dan konsistensi rasa.
Salah satu produk unggulan Sanrah Food adalah bebek ungkep yang dimasak dengan teknik perebusan bumbu selama empat jam. Proses ini menghasilkan daging yang lembut, gurih, dan kaya rempah, namun tetap praktis untuk disajikan. “Konsumen cukup memanaskannya sebentar. Rasanya seperti masakan rumahan,” tambahnya.
Seiring berkembangnya bisnis, Sanrah Food memperluas portofolio produknya. Selain bebek, tersedia juga ayam ungkep, burung puyuh, hingga chicken wings dengan cita rasa autentik. Harga produknya berkisar antara Rp60.000 hingga Rp125.000. Untuk sambal, terdapat berbagai pilihan seperti sambal bawang, sambal kecombrang, sambal paru mercon, sambal cumi isi, hingga sambal ikan tuna dengan harga sekitar Rp30.000-an.
Beberapa varian sambal bahkan telah menembus pasar internasional. Produk tanpa daging lebih mudah memenuhi regulasi ekspor, sehingga sambal bawang dan sambal kecombrang kini telah dipasarkan ke Malaysia dan Singapura. Dalam waktu dekat, produk ini akan masuk ke lima supermarket di Jeddah, Arab Saudi.
Lina mengakui bahwa pencapaian ekspor ini tidak lepas dari dukungan Pertamina. Dengan mengikutsertakan Sanrah Food dalam berbagai pameran, baik dalam maupun luar negeri, Pertamina memberikan akses pasar yang lebih luas. “Kalau tidak diajak Pertamina ikut pameran, mungkin kami tidak akan mendapat akses pasar seluas ini,” katanya.
Sebagai mitra binaan Pertamina, Sanrah Food semakin mantap memperkuat posisinya di segmen makanan praktis dan sambal pedas yang digemari konsumen modern. Dengan hadirnya varian baru seperti chili oil dan nasi instan, Sanrah Food menegaskan komitmennya untuk terus berinovasi dan merespons kebutuhan pasar lokal maupun global.


Tinggalkan Balasan