Kondisi Darurat di Aceh: Kebutuhan Bantuan Kemanusiaan yang Mendesak

Beberapa organisasi dan aktivis lokal di Aceh menyerukan percepatan bantuan kemanusiaan bagi korban banjir bandang dan longsor, terutama di wilayah yang masih tidak dapat dijangkau melalui jalur darat. LSM Katahati Institute, Forum Konservasi Leuser (FKL), hingga Leuser Coffee menyampaikan kekhawatiran serupa mengenai situasi yang semakin memprihatinkan.

Logistik semakin menipis, komunikasi terputus, sementara akses jalan darat hanya menyisakan jalur yang terbatas. Menurut Raihal Fajri dari Katahati Institute, warga di dataran tinggi Aceh masih terisolasi tanpa suplai logistik yang cukup. Ia menegaskan bahwa bantuan harus segera diarahkan ke wilayah yang hanya bisa ditembus lewat udara. Kondisi saat ini sangat genting dan tidak bisa ditunda.

Di wilayah tersebut, warga kesulitan mendapatkan makanan, air bersih, layanan kesehatan terbatas, serta koordinasi menjadi lebih berat karena jaringan komunikasi ikut rusak. Titik-titik terisolasi yang membutuhkan bantuan darurat juga semakin meningkat.

Daerah Prioritas yang Terdampak Banjir Bandang dan Longsor

Berdasarkan pemantauan lapangan dan laporan dari warga serta relawan, beberapa daerah yang menjadi prioritas paling mendesak antara lain:

  • Samar Kilang, Syiah Utama, Pintu Rime – Bener Meriah
  • Linge – Aceh Tengah
  • Langkahan, Leubok Pusaka – Aceh Utara
  • Sah Raja, Lokop – Aceh Timur
  • Kuta Lintang – Aceh Tamiang
  • Ketambe – Aceh Tenggara

Rata-rata daerah tersebut mengalami kerusakan jalan, longsoran yang menutup akses, dan jembatan utama yang putus. Hal ini membuat jalur udara melalui helikopter, drone logistik, atau pesawat kecil menjadi satu-satunya opsi untuk mengirimkan bantuan.

Bantuan Sudah Diterbangkan, Tapi Masih Jauh dari Cukup

Katahati Institute dan Leuser Coffee saat ini telah mulai mengirimkan logistik melalui jalur udara dari Lanud SIM di Aceh, dengan transit melalui Medan, Sumatra Utara. Isi bantuan yang dikirim mencakup beras, minyak goreng, susu, air bersih, dan mie instan. Namun, menurut Raihal, frekuensi pengiriman masih terbatas. Oleh karena itu, mereka meminta agar distribusi udara dibuat terjadwal dan berulang, agar suplai tidak terputus di tengah jalan.

Situasi Lingkungan di Kawasan Leuser Jadi Sorotan

Dari sisi lingkungan, Ibnu dari Forum Konservasi Leuser (FKL) menyampaikan bahwa kerusakan alam di sekitar kawasan Leuser memperparah potensi banjir dan longsoran. Ia menekankan pentingnya logistik sampai ke wilayah yang terisolasi. Meskipun pemulihan akses darat penting, suplai kebutuhan dasar melalui udara harus rutin agar warga dapat bertahan dalam masa tanggap darurat.

Seruan untuk Semua Pihak

Mereka secara konsisten meminta:

  • Bantuan udara (helikopter, drone logistik, pesawat kecil) dijadwalkan berkala dan berulang
  • Penambahan alat berat untuk membuka akses darat secara bertahap
  • Aktivasi kembali komunikasi darurat, termasuk via satelit
  • Koordinasi lintas lembaga yang lebih terpadu
  • Perhatian khusus terhadap kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, perempuan, dan penyandang disabilitas

Terakhir, Ibnu menutup dengan pesan yang tegas namun tetap tenang: “Siapa pun yang ingin membantu, fokuslah dulu pada saudara-saudara kita yang terjebak tanpa akses. Sekarang fase bukan soal nanti, tapi soal hari ini.”