Penyebab Bencana Ekstrem di Sumatera Utara

Bencana alam yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) tidak hanya disebabkan oleh datangnya Siklon Tropis Senyar. Sejumlah pihak menilai bahwa faktor utama penyebab bencana ekstrem ini adalah kerusakan ekologis yang telah terjadi sebelumnya. Di antara wilayah yang terdampak, nama PT Toba Pulp Lestari kini menjadi perhatian khusus.

Dalam pernyataannya kepada awak media, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumut, Rianda Purba, menyampaikan bahwa ada tujuh perusahaan yang diduga menjadi pemicu bencana ekstrem di Sumut. Sampai hari ini, bencana tersebut telah menelan ratusan korban jiwa. Salah satu perusahaan yang disebut adalah PT Toba Pulp Lestari.

”Kami mengindikasikan tujuh perusahaan sebagai pemicu kerusakan karena aktivitas eksploitatif yang membuka tutupan hutan Batang Toru,” ujar Rianda.

Selain PT Toba Pulp Lestari, ada enam perusahaan lain yang disebut oleh WALHI Sumut. Beberapa di antaranya adalah:

  • PT Agincourt Resources (tambang emas martabe)
  • PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) (PLTA Batang Toru)
  • PT Pahae Julu Micro (Hydro Power dan PLTMH Pahae Julu)
  • PT SOL Geothermal Indonesia (Geothermal Taput)
  • PT Sago Nauli Plantation (Perkebunan sawit di Tapanuli Tengah)
  • PTPN III Batang Toru Estate (Perkebunan sawit di Tapanuli Selatan)

Aktivitas Perusahaan yang Menyebabkan Kerusakan Ekologis

Khusus untuk PT Toba Pulp Lestari, WALHI Sumut menyoroti Unit Perkebunan Kayu Rakyat (PKR) yang berkelindan dengan aktivitas produksi perusahaan tersebut. Rianda menegaskan bahwa aktivitas perusahaan tersebut menyebabkan alih fungsi ratusan hingga ribuan hektare hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru menjadi PKR yang ditanami eukaliptus.

”Ratusan hingga ribuan hektare hutan di DAS Batang Toru telah beralih fungsi menjadi Perkebunan Kayu Rakyat (PKR) yang ditanami eukaliptus, terutama di Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan,” jelasnya.

Bencana Bukan Hanya Akibat Cuaca Ekstrem

Rianda menekankan bahwa banjir bandang dan longsor tidak muncul hanya karena Siklon Tropis Senyar yang memicu cuaca ekstrem dan hujan deras dengan intensitas tinggi. Menurutnya, ada aktivitas perusahaan-perusahaan ekstraktif yang menyebabkan kerusakan ekologis pada Ekosistem Batang Toru. Termasuk di dalamnya adalah aktivitas yang dilakukan oleh PT Toba Pulp Lestari.

”Setiap banjir membawa kayu-kayu besar, dan citra satelit menunjukkan hutan gundul di sekitar lokasi. Ini bukti campur tangan manusia melalui kebijakan yang memberi ruang pembukaan hutan. Ini adalah bencana ekologis akibat kegagalan negara mengendalikan kerusakan lingkungan,” tegasnya.