Wilayah Permukiman di Desa Anggasari Terendam Banjir Rob
Wilayah permukiman di Desa Anggasari, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Subang, kembali terendam banjir rob selama beberapa hari terakhir. Kejadian ini disebabkan oleh air pasang laut yang tinggi dan berlangsung secara berulang. Meskipun ketinggian air mencapai antara 80 hingga 120 sentimeter, warga memilih untuk tetap bertahan di rumah dan tidak mengungsi.
Namun, banjir rob yang sering terjadi ini menimbulkan rasa resah yang sangat besar bagi masyarakat setempat. Air laut yang memiliki kadar garam tinggi menjadi ancaman utama karena dapat merusak perabotan dan aset rumah tangga. Salah seorang warga, Darma, menyampaikan kekhawatirannya terhadap kondisi yang terjadi. “Banjir rob sudah berlangsung lama. Kami sangat resah karena air laut yang memiliki kadar garam tinggi ini mampu merusak perabotan rumah tangga kami. Kami berharap ada solusi untuk meminimalisir dampaknya,” ujar Darma.
Berdasarkan data terkini, banjir rob di Desa Anggasari telah merendam permukiman di empat RT dengan total sedikitnya 368 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak. Selain rumah, banjir juga meluas ke sektor produktif, seperti tambak dan lahan persawahan. Tercatat, sebanyak 271 hektare sawah di Desa Anggasari terendam air dan telah berada dalam kondisi bera (nonaktif) sejak tahun 2021.
Menghadapi bencana yang menjadi langganan ini, warga mendesak pemerintah terkait untuk segera memberikan perhatian serius, terutama solusi jangka panjang dan struktural. Darma menambahkan bahwa warga mengusulkan upaya mitigasi seperti normalisasi sungai atau pembangunan tanggul yang kokoh sebagai langkah efektif untuk menutup dan meminimalisir luapan air laut yang masuk ke permukiman.
Menanggapi laporan warga, Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial (Kasi Kesos) Kecamatan Sukasari, Agus Sugihartono, membenarkan bahwa pihaknya telah meninjau lokasi dan melakukan asesmen dampak bencana. “Saya dan Bapak Camat sudah meninjau ke lokasi kemarin, dan kami juga sudah melakukan koordinasi dengan pihak terkait di tingkat kabupaten,” ungkap Agus.
Agus berharap laporan resmi yang disampaikan oleh Pemerintah Desa Anggasari dan Pemerintah Kecamatan Sukasari segera direspons dan ditindaklanjuti oleh pihak berwenang di tingkat kabupaten untuk memberikan solusi struktural yang diharapkan warga. Dengan adanya tindakan yang tepat, diharapkan masyarakat bisa lebih tenang dan aman dari ancaman banjir rob yang sering terjadi.
Dampak Banjir Rob pada Sektor Pertanian dan Ekonomi
Selain merusak perabotan rumah tangga, banjir rob juga berdampak signifikan pada sektor pertanian. Ratusan hektare tambak dan lahan persawahan terendam air, sehingga mengganggu produksi pertanian dan ekonomi masyarakat. Sawah yang terendam air selama berbulan-bulan menyebabkan tanaman tidak bisa tumbuh optimal dan bahkan mati. Hal ini berdampak langsung pada pendapatan para petani dan ketersediaan pangan di wilayah tersebut.
Tidak hanya itu, banjir rob juga mengganggu aktivitas sehari-hari warga. Jalan-jalan utama dan jalur transportasi sering kali tergenang air, sehingga menyulitkan akses ke tempat-tempat penting seperti pasar, sekolah, dan fasilitas kesehatan. Warga juga mengeluhkan gangguan listrik dan air bersih akibat banjir yang terus-menerus.
Upaya Mitigasi yang Diusulkan Warga
Dalam upaya mengatasi banjir rob, warga setempat mengusulkan beberapa langkah mitigasi yang bisa dilakukan. Beberapa di antaranya adalah:
- Normalisasi sungai untuk meningkatkan kapasitas aliran air dan mencegah banjir.
- Pembangunan tanggul yang kuat dan tahan terhadap air pasang laut.
- Penyuluhan kepada warga tentang cara menghadapi banjir rob dan menjaga kebersihan lingkungan.
- Peningkatan sistem drainase di permukiman agar air tidak menumpuk dan mengalir dengan baik.
Dengan adanya upaya-upaya ini, diharapkan banjir rob tidak lagi menjadi ancaman yang terus-menerus mengancam kehidupan masyarakat di Desa Anggasari.


Tinggalkan Balasan