PR Garut –

Kekhawatiran terhadap pernikahan di kalangan generasi muda atau Gen Z kini menjadi topik yang semakin menarik perhatian. Namun bagi Shinta Ummu Tasbita, aktivis pencetak generasi muda asal Garut, narasi bahwa anak muda takut menikah karena kurang iman adalah pandangan yang salah dan terlalu sederhana. Ia menegaskan bahwa ketakutan itu justru lahir dari tekanan hidup yang semakin berat.

“Banyak anak muda bilang, keuangan dulu aman, baru mikir nikah. Ini bukan alasan klise. Mereka hidup dalam kondisi ekonomi yang membuat masa depan terasa tidak pasti,” ujarnya.

Tren ketakutan menikah ini sejalan dengan fakta-fakta yang muncul beberapa tahun terakhir. Salah satu media nasional melaporkan bahwa media sosial Threads dipenuhi perbincangan tentang anak-anak muda yang lebih takut miskin daripada takut tidak menikah. Fenomena ini bukan hal mengejutkan, melainkan cerminan dari realitas. Survei Populix 2025 menunjukkan mayoritas milenial dan Gen Z menunda menikah karena faktor ekonomi. Bukan hanya sebelum menikah, tapi juga karena takut tidak mampu menghidupi keluarga setelahnya.

Menurut Shinta, temuan tersebut diperkuat oleh penelitian Indonesia Banking School yang menunjukkan bahwa Gen Z memahami pentingnya menabung, namun kemampuan finansial mereka sangat terbatas akibat tekanan ekonomi. Sementara itu, Psikolog Unair, Dr. Ike Herdiana, menyebut penurunan angka pernikahan sejak 2023 dipengaruhi oleh kemiskinan, pemberdayaan perempuan, dan ketidaksiapan mental-fisik-finansial.

“Jadi pola pikir itu terbentuk bukan karena mereka tidak ingin menikah, tapi karena mereka merasa harus bertahan dulu dalam realitas ekonomi yang menekan. Ini bukan soal manja, ini soal sistem,” tegasnya.

Shinta dengan tegas menolak narasi yang menyudutkan generasi muda sebagai pribadi manja atau egois ketika menunda menikah. Ia menilai ketakutan tersebut merupakan reaksi logis terhadap sistem ekonomi yang tidak bersahabat. Dalam kapitalisme modern, hampir semua kebutuhan tunduk pada logika pasar. Ia kemudian merinci beberapa kondisi yang menurutnya melanggengkan kecemasan finansial generasi muda:

  • Kebutuhan dasar semakin mahal karena seluruh sektor terkomersialisasi.
  • Sumber daya diprivatisasi sehingga rakyat bergantung pada korporasi untuk kebutuhan pokok.
  • Lapangan kerja tidak stabil; upah stagnan, biaya hidup melambung.
  • Budaya konsumerisme menciptakan standar hidup palsu.
  • Pernikahan dipersepsikan sebagai proyek finansial, bukan jalan ibadah.

“Dengan kondisi seperti ini, wajar saja anak muda merasa takut. Mereka bukan malas membangun keluarga, mereka takut jatuh miskin,” ujarnya.

Shinta memaparkan bahwa tekanan ekonomi yang terus meningkat menimbulkan berbagai dampak serius bagi generasi muda, antara lain:

Ketakutan gagal menafkahi keluarga.

Penundaan pernikahan secara masif.

Pergeseran nilai bahwa menikah dianggap beban finansial.

Menurunnya keberanian membangun rumah tangga.

Potensi krisis demografi bila tren berlanjut.

“Kalau satu-dua orang takut menikah, mungkin itu masalah pribadi. Tapi kalau satu angkatan muda merasakannya, itu berarti ada persoalan sistem,” jelasnya.

Sebagai aktivis yang sering membina anak muda, Shinta menilai bahwa Islam menawarkan solusi yang tidak hanya moral, tetapi juga struktural. Ia menegaskan bahwa dalam Islam, negara bertanggung jawab menjamin kesejahteraan rakyatnya.

Menurut Shinta, beberapa prinsip Islam yang relevan antara lain:

  • Negara menjamin kebutuhan dasar rakyat.
  • Sumber daya dikelola sebagai milik umum, bukan korporasi.
  • Upah dan lapangan kerja dijamin layak.
  • Pendidikan berbasis aqidah yang menekankan pernikahan sebagai ibadah.
  • Pernikahan dipermudah, tanpa standar resepsi kapitalistik.

“Dalam sistem Islam, menikah bukan beban. Itu adalah ibadah yang dimudahkan,” tegasnya.

Shinta juga mengutip salah satu ayat Al-Qur’an yang menyebut pernikahan sebagai jalan ketenteraman yang diciptakan Allah SWT, bukan sumber ketakutan. Ia menekankan bahwa generasi muda hari ini bukan generasi rapuh seperti yang sering dituduhkan.

“Mereka tidak anti menikah. Mereka hanya tidak ingin membawa pasangan mereka menderita dalam kondisi ekonomi yang mereka sendiri belum bisa kendalikan,” katanya.

Baginya, solusi masalah ini tidak cukup sebatas motivasi atau kata-kata penyemangat. Dibutuhkan perubahan sistem yang menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai prioritas agar pernikahan kembali menjadi anugerah yang ringan dijalani.

“Jika negara menjamin kebutuhan hidup warganya, maka menikah tidak lagi jadi sesuatu yang menakutkan. Anak muda akan berani membangun keluarga, seperti yang Allah maksudkan, dengan ketenangan, kasih, dan sayang,” pungkasnya.