Peningkatan Infrastruktur Logistik Kilang Balikpapan
Pengelolaan pasokan minyak mentah menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran operasional Kilang Balikpapan. PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB), yang merupakan bagian dari Kilang Pertamina Internasional (KPI), telah menyelesaikan pembangunan dua tangki besar di Terminal Lawe-Lawe serta satu unit fasilitas Single Point Mooring (SPM) beserta jalur perpipaannya.
Dua tangki baru ini memberikan peningkatan signifikan terhadap proses logistik kilang. Milla Suciyani, Pjs. Corporate Secretary KPI, menjelaskan bahwa fasilitas tersebut mampu mengurangi biaya logistik pengiriman minyak mentah. Jaringan pipa berdiameter 52 inci sepanjang 20,2 kilometer menghubungkan SPM dengan area penyimpanan. SPM sendiri adalah fasilitas tambat di tengah laut yang digunakan sebagai gerbang masuk minyak mentah.
“Proyek RDMP Balikpapan membangun SPM dengan kapasitas mencapai 320.000 deadweight tonnage (DWT). Ini memungkinkan kapal tanker jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) berlabuh dan mengalirkan minyak mentah,” ujar Milla dalam keterangannya, Jumat (12/12).
Kemampuan menerima pasokan dalam volume besar akan mengurangi biaya logistik yang sebelumnya lebih tinggi akibat keterbatasan kapasitas. Sebelum proyek ini selesai, Kilang Balikpapan hanya mengoperasikan SPM berkapasitas 150.000 DWT.
Peningkatan daya tampung sistem penerimaan minyak mentah juga diperkuat dengan pemasangan dua jalur perpipaan berukuran besar, yaitu pipa 52 inci untuk Crude Receiving dan pipa 20 inci untuk Crude Transfer. Milla menyatakan bahwa infrastruktur baru ini memungkinkan transfer minyak mentah dari kapal ke tangki, lalu dari tangki ke kilang, berlangsung jauh lebih cepat berkat kemampuan pemompaan yang meningkat.
“Diameter pipa yang lebih besar membuat volume aliran yang lebih tinggi dalam waktu yang lebih singkat, sehingga mempercepat seluruh proses logistik,” tambahnya.
Optimalisasi infrastruktur logistik ini juga berdampak pada berkurangnya waktu tunggu kapal dan proses bongkar muat. Milla menegaskan bahwa kemampuan alir yang lebih besar membuat kapal tanker tidak perlu lagi antre panjang, sehingga biaya demurrage bisa ditekan dan produktivitas bongkar muat turut meningkat.
Fungsi dan Manfaat Tangki Lawe-Lawe
Dua tangki raksasa di Lawe-Lawe dirancang untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong efisiensi logistik crude oil. Masing-masing tangki memiliki kapasitas 1 juta barel, menjadikannya fasilitas penyimpanan minyak mentah terbesar di Asia Tenggara serta menjadi elemen penting dalam proyek RDMP Balikpapan.
“Keberadaan tangki ini memungkinkan pengelolaan inventori minyak mentah yang lebih fleksibel dan terintegrasi dengan kilang Balikpapan,” ujar Milla.
Pembangunan tangki Lawe-Lawe dimulai sejak Oktober 2019 dan selesai pada Desember 2024. Fasilitas ini dibangun untuk mendukung peningkatan kapasitas pengolahan Kilang Balikpapan yang naik dari 260 ribu barel menjadi 360 ribu barel per hari.
Peran Penting dalam Ketahanan Energi Nasional
Milla menegaskan bahwa dengan kapasitas penyimpanan terbesar di Asia Tenggara, tangki tersebut menjadi ikon baru ketahanan energi Indonesia sekaligus memperkuat sistem penyimpanan minyak mentah nasional serta menopang operasi Kilang Balikpapan.
“Tangki raksasa Lawe-Lawe bukan hanya simbol kekuatan infrastruktur, tetapi juga representasi nyata dari transformasi energi Indonesia menuju masa depan yang lebih mandiri dan kompetitif. Ini sekaligus jadi simbol nyata dari komitmen KPI dalam membangun sistem energi nasional yang tangguh, efisien, dan berkelanjutan,” tutup Milla.


Tinggalkan Balasan